Karimun. Suara Inovatif.com
Menteri Pertanian Republik Indonesia (Mentan RI) Andi Amran Sulaiman mengawali kunjungan kerjanya ke Kabupaten Karimun dengan mengunjungi Kantor Wilayah Bea dan Cukai (Kanwil BC) Kepulauan Riau.
Dalam konferensi pers bersama awak media, Mentan Amran menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada aparat penegak hukum di Kepulauan Riau yang berhasil menggagalkan penyelundupan sekitar 1000 ton beras.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada aparat penegak hukum di Kepri atas keberhasilannya menangkap penyelundupan beras ini. Saya juga meminta agar penyidik Mabes Polri mengusut kasus ini sampai tuntas dan menindak tegas para pelakunya,” ujar Mentan Amran.
Menurutnya, praktik penyelundupan beras dapat berdampak serius terhadap kehidupan petani nasional. Ia menyebutkan, sedikitnya 115 juta petani padi di Indonesia berpotensi dirugikan akibat tindakan tersebut.
Mentan Amran juga menegaskan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto telah menyampaikan secara nasional maupun internasional bahwa Indonesia saat ini telah mencapai swasembada beras. Bahkan, beberapa bulan lalu di Karawang, Presiden kembali menegaskan capaian tersebut kepada publik.
“Untuk itu, saya mengajak seluruh masyarakat mendukung swasembada beras ini dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggunya,” kata Amran.
Ia menjelaskan, saat ini Indonesia berada dalam kondisi surplus beras sekitar 3,5 juta ton. Namun demikian, ia menyoroti adanya pergerakan beras dalam jumlah relatif kecil, yakni sekitar 1.000 ton bahkan terkadang hanya 200 ton, yang dinilai tidak wajar.
Hal lain yang menjadi perhatian, lanjut Amran, adalah sumber pengiriman beras yang disebut berasal dari Tanjungpinang, wilayah yang tidak memiliki lahan persawahan. Padahal, daerah seperti Palembang diketahui memiliki surplus beras sekitar 1,2 juta ton dengan total produksi mencapai 3,5 juta ton.
“Ini tidak masuk akal. Kami menduga kuat beras tersebut berasal dari hasil penyelundupan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Mentan Amran meminta agar Mabes Polri bekerja sama dengan Polda Kepri, dengan dukungan TNI dan Kejaksaan, untuk mengusut kasus ini hingga tuntas.
“Bayangkan, hanya dua atau tiga orang melakukan penyelundupan, tetapi 115 juta petani kita yang menderita. Di mana keadilannya, di mana rasa persatuan kita,” tegasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pengungkapan kasus ini penting demi menjaga kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional. (Rahotan)



