Jakarta.Suara Inovatif Com
Penguatan moderasi beragama dinilai harus didukung oleh kajian dan penelitian yang berbasis pada nilai toleransi serta pengertian antarumat beragama. Hal tersebut disampaikan oleh Ngabalin dalam pandangannya terkait peran strategis pemimpin agama dan kalangan intelektual dalam menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat majemuk.
Menurut Ngabalin, pemimpin agama dan intelektual memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, mereka dituntut memiliki keberanian moral untuk secara tegas melawan paham ekstremisme dan radikalisasi yang berpotensi merusak kerukunan antarumat beragama.
“Jika pemimpin agama dan intelektual mengambil sikap tegas terhadap ekstremisme, maka mereka tidak hanya memperkuat moderasi beragama di komunitas masing-masing, tetapi juga ikut menjaga stabilitas sosial secara lebih luas,” ujarnya.
Toleransi sebagai Jawaban Tantangan Global
Ngabalin menekankan bahwa toleransi menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan global yang kian kompleks. Di era keterhubungan antarnegara yang semakin intens, konflik berbasis agama berpotensi muncul jika nilai-nilai moderasi tidak diperkuat secara sistematis.
Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi contoh bagi dunia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar serta masyarakat yang beragam, Indonesia dinilai mampu menunjukkan bahwa perbedaan agama dan keyakinan dapat hidup berdampingan secara harmonis.
“Melalui pendidikan dan dialog antaragama yang berkelanjutan, Indonesia dapat berperan aktif mempromosikan toleransi dan moderasi beragama di tingkat global,” kata Ngabalin.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perdamaian Berkelanjutan
Lebih lanjut, Ngabalin menegaskan bahwa penguatan moderasi beragama tidak dapat dibebankan hanya kepada individu atau kelompok tertentu. Diperlukan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat sipil, hingga sektor swasta, guna menciptakan ekosistem yang mendukung praktik moderasi beragama secara berkelanjutan.
Ia juga menyoroti pentingnya kemitraan internasional, termasuk kerja sama antara Indonesia dan negara-negara lain seperti Korea Selatan, dalam memperkuat nilai-nilai toleransi dan perdamaian.
“Kerja sama lintas negara akan memberikan dampak positif, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat global dalam menciptakan dunia yang lebih stabil, inklusif, dan damai,” pungkasnya. (Ronald Manurung)



