JAKARTA. Suara Inovatif. Com
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menjelaskan pola pendidikan di Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang menggabungkan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem pendidikan.
Salah satu perbedaan utama SNT dengan sekolah negeri pada umumnya adalah mekanisme keberlanjutan pendidikan. Siswa yang telah menyelesaikan SMP di SNT dapat melanjutkan ke jenjang SMA di sekolah yang sama tanpa mengikuti proses seleksi ulang.
“Lulusan SMP SNT karena terintegrasi, dia otomatis bisa diterima di SMA SNT tersebut. Jadi tidak pakai seleksi lagi, makanya kita sebut terintegrasi,” kata Mu’ti saat ditemui usai kegiatan MPLS SNT 7 Bogor, Jawa Barat.
Menurut Mu’ti, sistem tersebut diharapkan memberikan kesinambungan pendidikan bagi peserta didik. Setelah menyelesaikan pendidikan di SNT, para lulusan juga diarahkan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Namun, kemudahan melanjutkan dari SMP ke SMA tersebut berbanding terbalik dengan proses masuk SNT yang menerapkan seleksi cukup ketat.
Untuk menjaga mutu pendidikan, setiap SNT membatasi jumlah peserta didik. Dalam satu angkatan, hanya tersedia 80 siswa, terdiri atas 40 siswa jenjang SMP dan 40 siswa jenjang SMA.
“Murinya memang kita batasi karena menjaga mutu. Untuk angkatan pertama ini, jenjang SMP hanya menerima 40 murid dan SMA juga 40 murid,” ujar Mu’ti.
Seleksi dilakukan menggunakan tes skolastik sebagai bagian dari proses penerimaan peserta didik. Pemerintah menargetkan peserta didik yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
Data penerimaan angkatan pertama SNT tahun ajaran 2026/2027 menunjukkan tingginya persaingan. Dari 2.068 pendaftar, hanya 1.360 peserta didik yang dinyatakan diterima di 17 lokasi SNT di berbagai daerah.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, mengatakan jumlah tersebut terdiri atas 680 siswa SMP dan 680 siswa SMA.
“Dari yang mendaftar 2.068, telah lulus 1.360 untuk anak-anak kita di 17 lokasi. Terdiri dari 680 murid SMP dan 680 murid SMA. Ini angkatan pertama SNT tahun 2026-2027,” kata Gogot.
Seleksi ketat juga diberlakukan terhadap tenaga pendidik. Pemerintah menyeleksi guru dari sekitar 60.000 lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan, namun hanya 204 orang yang diterima untuk mengajar di SNT.
Selain itu, seleksi kepala sekolah juga dilakukan secara nasional. Dari sekitar 1.800 pendaftar, hanya 17 orang yang terpilih untuk menjadi kepala sekolah di 17 SNT.
“Kami telah menyeleksi 17 kepala sekolah dari 1.800 pendaftar di seluruh Indonesia. Jadi kepala sekolah yang terpilih di SNT Bogor adalah kepala sekolah pilihan,” ujar Gogot.
Mu’ti menegaskan SNT memiliki konsep yang berbeda dengan Sekolah Rakyat maupun Sekolah Unggulan Garuda. SNT tidak menerapkan sistem pendidikan berasrama.
Jenjang pendidikan yang diselenggarakan juga difokuskan pada SMP dan SMA. Penempatan SNT di sejumlah wilayah, menurut Mu’ti, dimaksudkan agar peserta didik tetap dapat mengakses pendidikan unggulan tanpa harus tinggal jauh dari keluarga.
“Yang diharapkan, kenapa satu kota? Supaya mereka tidak jauh tinggalnya dan supaya setiap satu daerah atau kota ada sekolah yang unggul,” katanya.
Dengan konsep tersebut, SNT diarahkan bukan sekadar menjadi sekolah dengan seleksi ketat, tetapi juga membangun kesinambungan pendidikan dari SMP hingga SMA dalam satu ekosistem. Tantangannya kini adalah memastikan seleksi, mutu tenaga pendidik, serta pengelolaan sekolah berjalan transparan dan konsisten agar label “terintegrasi” benar-benar berbanding lurus dengan kualitas pendidikan yang dijanjikan pemerintah. (Red)



